Nopember 8, 2008 oleh rinaldimunir
Ada seorang insinyur yang bekerja di perusahaan eksplorasi minyak lepas pantai. Sehari-hari dia bekerja di tengah laut karena memang penambangan minyak dilakukan di dasar laut. Di perusahaan minyak itu ada aturan kerja yang berlaku untuk semua karyawan: tiga bulan di laut dan dua minggu di darat, artinya bekerja terus menerus selama tiga bulan di laut, lalu mendapat jatah libur dua minggu di darat. Begitu seterusnya. Gaji yang diperolehnya sangat besar. Dia sudah punya istri dan dua orang anak. Dengan gajinya yang besar dia dapat membangun rumah dan memenuhi kebutuhan anak istrinya di darat.
Tetapi dia merasa kurang bahagia.
Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa dia merasa kesepian di tengah lautan, apalagi kalau malam sudah menjelang. Memang gajinya besar, tapi dirinya jauh dari keluarga. Perasaan rindu kepada keluarga terpaksa ditahannya selama berbulan-bulan sebelum dia mendapat jatah libur dua minggu.
Nun di tempat lain yang jauh, ada seorang kuli angkat pelabuhan. Hidupnya sederhana saja. Setiap hari kerjanya mengangkat barang dari kapal ke gudang pelabuhan atau sebaliknya dengan menggunakan bahunya yang kekar. Jam kerjanya dari pagi sampai sore. Upah yang dia dapatkan tidak besar, kadang tidak cukup dan kadang dicukup-cukupkan untuk menafkahi keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan lima orang anak. Memiliki rumah sendiri baginya masih sebatas mimpi, karena itu dia masih mengontrak sebuah rumah sempit di dekat pelabuhan.
Tetapi dia merasa cukup bahagia.
Ketika ditanya kenapa, dia menjawab bahwa meskipun hidupnya pas-pasan, tetapi setiap hari dia dapat berkumpul dengan anak dan istrinya. Malam hari seusai shalat dan makan malam, anak istrinya bergantian memijati badannya yang pegal-pegal. Anak-anaknya bercerita tentang pengalaman tadi siang, istrinya bercerita tentang kedatangan tukang kredit peralatan dapur. Baginya sudah cukup perhatian keluarganya sebelum dia mulai bekerja lagi esok pagi.
Cerita di atas memang terasa kontras, mungkin anda lebih setuju dengan model hidup yang mana, model hidup Pak Insinyur di tengah lautan itu atau model hidup Bapak kuli angkat pelabuhan itu? Tiap orang mungkin punya jawaban dan kriteria yang berbeda-beda dalam mengukur rasa bahagia itu.
Bagi kebanyakan orang Indonesia, berkumpul dengan keluarga setelah bekerja seharian adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kesedihan akan muncul jika dirinya berada di seberang jarak yang jauh dari keluarga. Pria Indonesia setelah menikah adalah tipe rumahan. Jika pulang bekerja, maka dia langsung pulang ke rumah, tidak mampir-mampir dulu ke tempat lain. Sore hari jalanan macet oleh para pekerja yang ingin segera sampai ke rumah untuk berkumpul dengan anak dan istrinya. Di Jepang dan di banyak negara maju yang terjadi sebaliknya. Setelah pulang dari kantor, kebanyakan pekerja menghabiskan waktunya dengan pergi ke kafe atau klab malam, minum-minum, lalu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Rasanya hidup itu terasa hampa.
Yang harus kita ingat-ingat adalah ada hak untuk diri sendiri dan ada hak untuk anak dan istri. Hak untuk diri sendiri sudah kita peroleh dengan bekerja bebas di luar rumah, pergi ke mana-mana seharian, makan-makan dengan teman sekantor, dan lain-lain. Maka, setelah pulang ke rumah waktu kita adalah hak untuk anak dan istri (bagi laki-laki) atau suami (bagi perenpuan). Saya bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak suka pada akhir pekan dia diganggu dengan urusan kerja atau urusan lain yang menyita waktunya, karena dia ingin menunaikan haknya untuk keluarganya. Zaman sekarang orang-orang sangat sibuk, sehingga waktu berkumpul dengan keluarga sangat kurang. Waktu akhir pekan yang sedikit itu mereka manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarganya.
Orang Indonesia memang tipe yang setia dengan keluarganya. Bersyukurlah kita masih hidup dalam lingkungan yang seperti ini.